Siapa yang salah? Apa pantas gara-gara hubungan masalalu orang tua yang tidak jelas masa depan anaknya jadi ter aniaya. Apakah harus nyawa anak jadi tumbalnya?
Sebut saja nama ku fera. Di usiaku menjelang 20 tahun, banyak masalah-masalah dan cobaan bertubi yang ku hadapi. Dari masa kecil ku, masa sekolah, hingga sekarang ku slalu saja mendapatkan perlakuan tidak adil dari kedua orang tua ku. Peringkat-peringkat ataupun prestasiku disaat sekolah pun tidak pernah mereka hargai. Selalu saja mereka menyayangi dan menyanjung adik laki-laki yang dibawah aku. Sakit rasanya hidup seperti ini, hidup d keluarga yang tidak mengharapkan kehadiran ku atau adanya aku di rumah tangga karna perzina an yang mereka buat ketika mereka muda mudi dahulunya. Mesti akulah yang harus menanggung beban deritanya hingga saat ini.Padahal ku hanyalah wanita lemah yang tak punya daya apa-apa.
Waktu setahun ku kerja setelah tamat sma ku slalu berbagi dengan mereka. Tak pernah ku berfikir atas perlakuan yang telah mereka perbuat kepada ku. Namun mereka tak juga tau, tak juga sadar-sadar atas apa yang aku rasakan. Bahwa aku masih saja mendapatkan perlakuan tidak adil dari mereka dari adik-adik ku. Padahal mereka ber dua cowok, sementara aku cewek, wanita yang butuh lebih diperhatikan dari pada cowok. Smuanya ini membingungkan ku. Apa lagi ku menderita penyakit maag yang udah stadium akud. Sudah beberapa kali dirawat di rumah sakit. Namun hal itu masih saja tidak merubah pola fikir mereka serta bentuk perhatian mereka padaku. Smua itu membuat ku bingung, apakah mereka benar-benar sayang pada ku dan menganggap aku anak atau bukan. Ataukah hidupku didunia ini adalah kesalahan? Apakah yang harus kulakukan, apakah langkah yang harus ku ambil, langkah manakah yang benar dan terbaiknya.
Sampai akhirnya ku bertemu dengan seorang pria. Hubungan yang awal perkenalan dia mengantarku ke tempat sahabatku buat buka bersama, hingga hubungan kami semakin dekat dan serius. Ku tak mau kehilangan dia, karna dia tlah berjanji tidak akan meninggal kanku apapun yang akan terjadi nantinya. Dari dialah ku dapatkan ketenang dan kenyamanan. Ku berharap dialah laki-laki terakhir dan yang akan menjadi suamiku nanti. Cuma dialah harapanku.
Namun smua ini mendapatkan coba an yang bertubi tubi. Diawal ku memulai kehidupan baru ku yang baru saja lulus di salah satu universitas negri, penyakit yang ada pada ku makin memburuk saja. Seminggu di kota p ku sudah dirawat dirumah sakit dan butuh perawatan. Mag ku makin parah dan smua tubuh ku menggigil dan terasa sakit-sakit semua. Namun iwa cowok yang telah berhubungan dekat dan serius dengan ku, merawat ku dengan baik di rumah sakit tersebut.Sampai akhirnya keadaan ku semakin buruk dan melemah saja. Ku tak mampu untuk apa-apa. Rencana awalnya yang aku ingin bekerja sambil kuliah dengannya pun jadi tak bisa.
Sekarang kami cuma bisa hidup dan makan apa adanya. Walaupun usia masih muda atau belum status suami istri, tapi beban dan tanggung jawab kami seperti orang yang telah bekeluarga. Saling melengkapi dan dia pun bertanggung jawab dengan kesehatan ku.